Yamaha RX Z tidak seberuntung RX-King dalam hal popularitas dan keberadaannya di jalanan. Saat ini, RX-King masih cukup mudah ditemui, sementara RX-Z sangat jarang terlihat. Ada anggapan bahwa RX-Z merupakan motor yang gagal, dan meskipun tidak sepenuhnya benar, penyebab utamanya bukan pada kualitas mesin, melainkan pada strategi pemasaran.
Saat diluncurkan, RX-Z dibanderol dengan harga yang relatif mahal dibandingkan RX-King, sehingga minat pasar tidak sebesar yang diharapkan. Kini, RX-Z menjadi barang buruan kolektor di Indonesia, meskipun di Thailand motor ini justru hanya digunakan sebagai ornamen, seperti pagar rumah.

Mengenal Yamaha RX Z
Yamaha RX-Z adalah motor sport 2-tak yang hadir dengan desain lebih sporty dan agresif dibanding pendahulunya. Karakter sport pada motor ini terlihat dari bentuk bodi yang serba runcing. Meskipun memiliki tampilan menarik, RX-Z tetap kalah tenar dibanding Yamaha RX-King.
Motor ini dirilis untuk bersaing dengan motor sport half fairing seperti Kawasaki AR 125 dan Suzuki RGR. Yamaha RX-Z mulai masuk ke pasar Indonesia pada tahun 1987 setelah lebih dulu sukses di Malaysia dan Singapura.
Dalam sebuah video dari akun Instagram gabby.powwer, terlihat RX-Z berwarna putih dengan aksen merah, dilengkapi pijakan kaki dengan posisi yang ergonomis, memberikan kenyamanan bagi pengendara. Jok motor juga tampak empuk, baik untuk pengendara maupun penumpang.
Performa
Yamaha RX Z dibekali mesin berkapasitas 133 cc dengan konfigurasi bore 56 mm dan stroke 54 mm. Mesin ini menghasilkan tenaga sebesar 15 kW (20 PS) pada 8.500 rpm dan torsi 18,1 Nm pada 7.500 rpm, dengan kecepatan maksimum yang diklaim mampu mencapai 150 km/jam.
RX-Z dan varian RZR sudah dilengkapi teknologi YCLS (Yamaha Computerized Lubricant System), yaitu sistem penyuplai oli samping yang dikendalikan secara elektronik. Teknologi ini memastikan pencampuran oli samping dan bensin berlangsung presisi sesuai putaran gas, sehingga performa mesin menjadi lebih optimal. Yamaha RX-Z maupun RZR tetap menjadi motor unggulan di kelas 2-tak 140 cc dan menjadi pesaing utama Suzuki RGR.
Berkarakter Sport Tulen
Yamaha RX Z hadir sebagai motor batangan dengan karakter sport yang kuat, mengusung desain racy, gagah, dan khas motor sport naked pada masanya. Tampilan agresif terlihat dari batok lampu berbentuk tajam lengkap dengan visor yang menutupi sebagian setang.
Bagian bawah motor dilengkapi undercowl yang sekaligus berfungsi sebagai pelindung mesin. Di bagian belakang, desain bodi menyatu dengan lampu sein dan stoplamp yang terintegrasi dalam satu batok.
Sistem pengereman RX-Z masih mengadopsi konfigurasi serupa RX-King, yakni rem cakram single piston di bagian depan dan rem tromol di belakang. Velg yang digunakan masih tipe jari-jari, umum ditemukan pada motor era 1980-an.
Secara teknis, RX-Z memiliki wheelbase 1.300 mm, panjang 1.990 mm, lebar 725 mm, dan tinggi 1.160 mm. Rangkanya menggunakan tipe underbone steel tube, dengan suspensi depan teleskopik dan suspensi belakang dual shock. Bobot kosong motor ini tercatat 106 kg, dengan kapasitas tangki bahan bakar mencapai 13 liter.
Perbedaannya dengan RX King
Mesin Yamaha RX Z sering disangka sama dengan RX-King karena sama-sama berkapasitas 135 cc, padahal keduanya memiliki karakter mesin yang berbeda. RX-Z menggunakan konfigurasi bore 56 mm dan stroke 54 mm, menghasilkan volume bersih 133 cc yang menjadikannya berkarakter near square.
Sementara itu, RX-King memiliki bore 58 mm dan stroke 50 mm dengan volume bersih 132 cc, menjadikannya berkarakter overbore. Perbedaan ini membuat RX-King unggul di putaran bawah dengan tenaga yang meledak-ledak, sedangkan RX-Z lebih optimal di putaran atas, terutama setelah mendapatkan pembaruan berupa transmisi 6-percepatan dan shockbreaker tabung pada versi facelift tahun 1990.
Produksi Yamaha RX Z di Indonesia dihentikan pada tahun 1998 karena rendahnya minat pasar, yang lebih memilih RX-King. Namun, di Malaysia, produksi RX-Z terus berlanjut hingga 2011. Dari segi harga bekas, RX-Z umumnya lebih murah dibanding RX-King. Unit dengan kondisi rapi namun tanpa STNK dan pajak mati dihargai sekitar Rp10 jutaan. Sementara unit dengan kondisi original, surat lengkap, dan pajak aktif bisa mencapai harga Rp20 jutaan.



